<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
Aku Menangis untuk Adikku
>
> Penulis : Ratu Karitasurya
> Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat
> terpencil. Hari demi hari, orangtuaku membajak tanah kering kuning, dan
> punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga
> tahun lebih muda dariku.
> Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di
> sekelilingku kelihatan membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci
> ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut
> di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
> “Siapa yang mencuri uang itu?” beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut
> untuk berbicara.
> Ayah tidak mendengar siapapun mengaku, jadi beliau mengatakan, “Baiklah,
> kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”
> Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi.
> Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang
> melakukannya! “
> Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu
> marah, sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai beliau kehabisan
> nafas.
> Sesudahnya, beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi,
> “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi
> yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati!
> Kamu pencuri tidak tahu malu!”
> Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh
> dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di
> pertengahan malam itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku
> menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis
> lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
> Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian
> untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut
> masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang
> adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku
> berusia 11.
> Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk
> ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima untuk masuk
> ke sebuah universitas propinsi.
> Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya,
> bungkus demi bungkus. Aku mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita
> memberikan hasil yang begitu baik. Hasil yang begitu baik.”
> Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya?
> Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”
> Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah,
> saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, saya telah cukup membaca banyak
> buku.”
> Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau
> mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti ayah
> mesti mengemis di jalanan, ayah akan menyekolahkan kamu berdua sampai
> selesai!” Kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam
> uang.
> Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang
> membengkak. Aku berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan
> sekolahnya. Kalau tidak, ia tidak akan pernah meninggalkan jurang
> kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi
> meneruskan ke universitas.
> Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan
> rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah
> mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik
> kertas di atas bantalku, “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya
> akan pergi mencari kerja dan mengirimmu uang.”
> Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan
> air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17
> tahun. Aku 20.
> Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku >
> hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku
> akhirnya sampai ke tahun ketiga di universitas.
> Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk
> dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”
> Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?
> Aku berjalan keluar dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor
> tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak
> bilang pada teman sekamarku kalau kamu adalah adikku?”
> Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan
> mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan
> menertawakanmu? “
> Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu
> dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak
> perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apapun juga! Kamu adalah
> adikku bagaimana pun penampilanmu. “
> Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia
> memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis
> kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”
> Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam
> pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
> Kali pertama aku pulang ke rumah setelah menghadiri undangan pernikahan
> seorang teman, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih
> di mana-mana. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk
> membersihkan rumah kita!”
> Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal
> untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya?
> Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.”
> Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus,
> seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya
> dan membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” aku menanyakannya.
> “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi,
> batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak
> menghentikanku bekerja dan…” Di tengah kalimat itu ia berhenti.
> Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun
> ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
> Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Seringkali suamiku dan aku
> mengundang orangtuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka
> tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka
> tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, dia
> mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di
> sini.”
> Saat Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku
> mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi
> adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai
> pekerja reparasi.
> Suatu hari, ketika adikku sedang di atas sebuah tangga untuk memperbaiki
> sebuah kabel, ia mendapat sengatan listrik, lalu masuk rumah sakit.
> Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, aku
> menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan
> pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu
> sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami
> sebelumnya?”
> Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.
> “Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak
> berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa
> yang akan dikirimkan?”
> Mata suamiku dipenuhi air mata. Kemudian keluar kata-kataku yang
> sepatah-sepatah, “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
> Lalu ia berkata, “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam >
> tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
> Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari
> dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya
> kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?”
> Tanpa berpikir, ia menjawab, “Kakak saya.”
> Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak
> dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, sekolah kami ada di dusun
> yang berbeda. Setiap hari kakak dan saya berjalan selama dua jam untuk
> pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu
> dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Sedangkan
> ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di
> rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai
> ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama
> saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”
> Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya
> kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku,
> orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.”
> Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan
> perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
> Diterjemahkan dari “I Cried for My Brother Six Times”
> Teruntuk adik-adikku tercinta; Tb. M. Hafiz Abdul Haq, Ratu Fatimah
> Az-Zahra, dan Tb. Rijal Al-Haq, kakak sayang dan rindu kalian.